Senin, 02 Desember 2013

Kemandirian, sebuah budaya yang belum sepenuhnya dimiliki oleh Putra-Putri Pertiwi

Bisakah kita cek semua peralatan yang ada di rumah kita?
Bisakah kita cek semua kendaraan yang ada di ibukota?
Bisakah kita cek semua gadget yang ada di tangan kita?
Lihatlah, coba sekali-kali lihatlah.. adakah yang made in Indonesia? Pasti ada,, yaa ada tapi tak sebanyak milik mereka (asing)
Hampir semua yang rakyat butuhkan sudah difasilitasi oleh mereka. Putra-putri bangsa dibuat bangga dan terlena dengan segala suapan-suapan yang diberikan oleh mereka. Bukankah katanya Indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Jika mau disebutkan, kekayaan alam apa yang dimiliki negara lain sedangkan tidak dimiliki Indonesia? rasanya bisa dihitung dengan hitungan jari. Tanah Indonesia merupakan ladang emas yang tidak akan bisa dimiliki bangsa lain, apapun yang ditanam disana pasti akan tumbuh dengan suburnya. Lautan Indonesia mengandung jutaan mutiara yang memukau dunia. Lantas apa yang menyebabkan Indonesia menjadi sulit untuk bisa menjadi negara maju seperti bangsa lain? Apakah kurangnya peran pemuda dalam pembangunan bangsa? Ataukah kurangnya wadah yang tersedia untuk para pemuda dalam menyalurkan segala pemikiran-pemikiran berilian yang mereka miliki? Padahal sejak dulu bukankah Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan, tapi jika dilihat sampai sekarang gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan tegaknya didominasi oleh perusahaan asing. Hanya saja mereka mempekerjakan rakyat dengan upah yang tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka dapatkan. Jangan sampai opini yang menyatakan bahwa rakyat layaknya seorang pembantu dirumahnya sendiri menjadi suatu fakta yang tak dapat dirubah. Oleh karena itu, kita harus mulai menerapkan budaya mandiri.
Jika ingin menjadi mandiri, maka rakyat harus sama-sama memperbaiki kelemahan-kelemahan yang mereka miliki. Soekarno pernah berkata dalam pidatonya dalam HUT Proklamasi 1966, “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno).
Itulah yang disampaikan oleh Bapak Bangsa Indonesia, sudah hampir 68 tahun Indonesia merdeka. Usia yang sudah mulai menua namun ungkapan tersebut belum bisa terhapus dari kehidupan bangsa ini. Sekali lagi, bukan berarti putra-putri bangsa tidak sedang berbuat apa-apa. Mereka sedang berusaha untuk menciptakan karya-karya luar biasa yang ingin mereka persembahkan kepada Indonesia. Jika negara bisa mengakui keberadaan dan kemampuan mereka, bukan mustahil Indonesia bisa menguasai dunia. Biarkanlah mereka berjuang untuk dapat menggenggam dunia. Agar kemandirian menjadi sebuah budaya dan identitas baru yang bangsa ini miliki. jangan lupa, pemerintah juga harus memfasilitasi.
“Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”
Tuhan tidak mengasihani sebuah bangsa yang mengasihani dirinya sendiri, namun Tuhan memberikan kasih sayangNya kepada suatu bangsa jika bangsa itu mampu berusaha dan mengharapkan kasih sayang Tuhan atas usaha yang telah dilakukannya.

Yakinilah, sebutir pasir yang dimiliki Indonesia merupakan sebuah permata yang memukau dimata dunia. Jika kala itu kita belum menyadari betapa berharganya negeri ini, sekaranglah tugas kita untuk jangan mengulang kesalahan yang sama. Ingat peran PEMUDAlah yang dibutuhkan Indonesia. Sejauh apapun kaki melangkah,sejauh apapun dunia membuat perubahan  jangan pernah melupakan budaya sebagai identitas bangsa. Karena budaya bangsa merupakan benteng yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri. jika benteng itu sendiri tak terjaga maka jangan salahkan kalau mereka bisa masuk kedalam rumah kita sesuka hati. Merubah semua ornamen-ornamen yang ada didalamnya, hingga pada akhirnya kita tak lagi mengenali rumah kita sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar