Selasa, 24 Desember 2013

Kabar Rindu

Bengawan solo...
Senandung bahagia dipenghujung fajar
Kala semilir anginnya membawa kabar rindu
Dan alirannya mengajak kepada keteduhan jiwa
Sementara matahari mengintip dengan wajah merona memancarkan kilauan cahaya
Semuanya menyapa, dan tak pernah berhenti memuji karunia Sang Pencipta

Bengawan Solo...
Kala itu ketika rindu  telah menemukan jalannya
Waktu dia tersenyum padaku
Membisikkan alunan lagu
Rindu... Kala itu dia bilang tak ingin melepasku
Meneriakkan isi hati yang tlah tertanam untukku
Membangunkan lamunanku, mengajak hatiku untuk bersama dia mencari ridho Sang Maha Cinta

Bengawan solo...
Ketika Tuhan menitipkan takdirNya diperbatasan senja
Aku tahu bahwa rencana Tuhan itu indah
Seindah saat pertemuan pertama kita
Kala tatap mata tak bersua membisikkan pesan cinta
menjadi saksi bisu atas rencana Dia Sang Pencipta
tentang kita yang tak lagi belenggu pada penghianatan terhadapNya
Semilir anginnya mengantarkan pesan rasa
Mengalirkan sebuah kata
Dia bilang “dia cinta”

Bengawan Solo...
Jawaban untuk penantian panjang dalam sujudku
Menemukan dia yang memperlihatkanku jalan terang menuju halalnya rindu
Sesederhana hati yang menyambut takdir Tuhan untukku
Sesederhana Tuhan menjawab Rindu
Dipenghujung fajar saat tasbih tak berhenti berseru

Untukmu rindu, kutitipkan selembar memori dalam anugerahNya di Bengawan Solo

--- beberapa waktu yang lalu, ini salah satu puisi yang saya ikut lombakan. walaupun belum menang tapi senang bisa berkontribusi

Selasa, 03 Desember 2013

KAMU DAN PELANGI

Jika kamu bertanya apa sebenarnya kamu?
Kamu seperti pelangi yang kedatangannya membawa kebahagiaan orang yang melihatnya
Kamu seperti pelangi yang saat pasukan hujan berhenti dan menghilang kamu justru  datang membawa jutaan warna penuh mimpi
Kamu seperti pelangi yang jarang terlihat tapi selalu dirindukan oleh manusia
Seperti pelangi?? Yaa itu kamu,, benar-benar seperti pelangi
Menghirup aroma namamu cukup membuatku jatuh cinta
Yang terkadang bisa membuat tawa bahagia
Juga mengukir sejuta gulana, tapi tidak untuk nestapa
Sungguh benar-benar buatku jatuh cinta
Jatuh cinta dengan cara sederhana
Sesederhana bulan setia pada bumi
Sesederhana embun dan pagi hari

Sesederhana hatiku memanggil namamu

Senin, 02 Desember 2013

Kemandirian, sebuah budaya yang belum sepenuhnya dimiliki oleh Putra-Putri Pertiwi

Bisakah kita cek semua peralatan yang ada di rumah kita?
Bisakah kita cek semua kendaraan yang ada di ibukota?
Bisakah kita cek semua gadget yang ada di tangan kita?
Lihatlah, coba sekali-kali lihatlah.. adakah yang made in Indonesia? Pasti ada,, yaa ada tapi tak sebanyak milik mereka (asing)
Hampir semua yang rakyat butuhkan sudah difasilitasi oleh mereka. Putra-putri bangsa dibuat bangga dan terlena dengan segala suapan-suapan yang diberikan oleh mereka. Bukankah katanya Indonesia adalah negeri yang sangat kaya. Jika mau disebutkan, kekayaan alam apa yang dimiliki negara lain sedangkan tidak dimiliki Indonesia? rasanya bisa dihitung dengan hitungan jari. Tanah Indonesia merupakan ladang emas yang tidak akan bisa dimiliki bangsa lain, apapun yang ditanam disana pasti akan tumbuh dengan suburnya. Lautan Indonesia mengandung jutaan mutiara yang memukau dunia. Lantas apa yang menyebabkan Indonesia menjadi sulit untuk bisa menjadi negara maju seperti bangsa lain? Apakah kurangnya peran pemuda dalam pembangunan bangsa? Ataukah kurangnya wadah yang tersedia untuk para pemuda dalam menyalurkan segala pemikiran-pemikiran berilian yang mereka miliki? Padahal sejak dulu bukankah Indonesia sedang giat-giatnya melaksanakan pembangunan, tapi jika dilihat sampai sekarang gedung-gedung pencakar langit yang berdiri dengan tegaknya didominasi oleh perusahaan asing. Hanya saja mereka mempekerjakan rakyat dengan upah yang tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka dapatkan. Jangan sampai opini yang menyatakan bahwa rakyat layaknya seorang pembantu dirumahnya sendiri menjadi suatu fakta yang tak dapat dirubah. Oleh karena itu, kita harus mulai menerapkan budaya mandiri.
Jika ingin menjadi mandiri, maka rakyat harus sama-sama memperbaiki kelemahan-kelemahan yang mereka miliki. Soekarno pernah berkata dalam pidatonya dalam HUT Proklamasi 1966, “Apakah Kelemahan kita: Kelemahan kita ialah, kita kurang percaya diri kita sebagai bangsa, sehingga kita menjadi bangsa penjiplak luar negeri, kurang mempercayai satu sama lain, padahal kita ini asalnya adalah Rakyat Gotong Royong” (Pidato HUT Proklamasi, 1966 Bung Karno).
Itulah yang disampaikan oleh Bapak Bangsa Indonesia, sudah hampir 68 tahun Indonesia merdeka. Usia yang sudah mulai menua namun ungkapan tersebut belum bisa terhapus dari kehidupan bangsa ini. Sekali lagi, bukan berarti putra-putri bangsa tidak sedang berbuat apa-apa. Mereka sedang berusaha untuk menciptakan karya-karya luar biasa yang ingin mereka persembahkan kepada Indonesia. Jika negara bisa mengakui keberadaan dan kemampuan mereka, bukan mustahil Indonesia bisa menguasai dunia. Biarkanlah mereka berjuang untuk dapat menggenggam dunia. Agar kemandirian menjadi sebuah budaya dan identitas baru yang bangsa ini miliki. jangan lupa, pemerintah juga harus memfasilitasi.
“Innallahu la yu ghoiyiru ma bikaumin, hatta yu ghoiyiru ma biamfusihim”. ” Tuhan tidak akan merubah nasib sesuatu bangsa sebelum bangsa itu merubah nasibnya sendiri”
Tuhan tidak mengasihani sebuah bangsa yang mengasihani dirinya sendiri, namun Tuhan memberikan kasih sayangNya kepada suatu bangsa jika bangsa itu mampu berusaha dan mengharapkan kasih sayang Tuhan atas usaha yang telah dilakukannya.

Yakinilah, sebutir pasir yang dimiliki Indonesia merupakan sebuah permata yang memukau dimata dunia. Jika kala itu kita belum menyadari betapa berharganya negeri ini, sekaranglah tugas kita untuk jangan mengulang kesalahan yang sama. Ingat peran PEMUDAlah yang dibutuhkan Indonesia. Sejauh apapun kaki melangkah,sejauh apapun dunia membuat perubahan  jangan pernah melupakan budaya sebagai identitas bangsa. Karena budaya bangsa merupakan benteng yang dimiliki oleh bangsa itu sendiri. jika benteng itu sendiri tak terjaga maka jangan salahkan kalau mereka bisa masuk kedalam rumah kita sesuka hati. Merubah semua ornamen-ornamen yang ada didalamnya, hingga pada akhirnya kita tak lagi mengenali rumah kita sendiri.

Minggu, 01 Desember 2013

Sujud yang lama tak ku kenali

03.30
Malam sunyi.. gemuruh mengisi.. menjadi teman untukku saat ini
Menanti hujan yang belum ingin turun menemani
Mereka menyapaku dalam sujud yang telah lama tak ku kenali
Damai menjadi saksi bahwa lagi-lagi Allah Rabb-ku membuka jalan untukku kembali
Rasa sakit yang sebelumnya menghampiri rupanya cara Allah memanggilku kembali
Dalam sujud yang rupanya benar-benar dirindukan oleh hati
Bukankah luar biasa cara Allah
Menegur bukan dengan perkataan, tapi menegur dengan cara-Nya sendiri
Karena sejatinya musibah, sakit, kegembiraan itu merupakan cara komunikasi Allah dengan hamba-hambaNya
Walau memang sedikit sekali dari kita yang menyadari

Gembira dilewati sendiri
Sedih malah mencari manusia menjadi penyembuh hati
Sakit mencari dokter yang diharapkan mengobati
Bahkan sering sekali mendzolimi kasih sayang yang Dia beri
Bahasa kasih sayang yang begitu indah
Memberi tahu bukan untuk menyakiti
Melainkan mengetuk pintu hati,, menyadari...
Allah Rabb-ku entah, adakah yang lebih baik dari-Mu?
Kurasa semua makhluk tahu jawabannya
Hanya saja manusia sering sekali tak peduli
Allah Rabb-ku entah, adakah yang lebih lalai dari ku?

Pernah terpikir olehku
Bagaimana Dia membisikkan kata rindu
Rindu meminta hamba-Nya mengadu
Mungkin dari sebuah masalah, penyakit, atau mungkin kegembiraan itu sendiri
Yang sebenarnya ingin Allah Sang Rabbul ‘Alamiin tunjukkan

Dari jutaan cara yang Dia miliki