Selasa, 11 November 2014

Indonesia Negeri Pancasila


Banyak dari kita jika ditanya “Apakah kamu cinta Indonesia?” pasti sebagian besar menjawab iya. Indonesia negeri kaya dan tanahnya tumbuh subur memang layak mendapat cinta. Segala apa yang dibutuhkan masyarakat dunia berasal dari negeri ini. Namun rupanya negeri yang telah 69 tahun merdeka ini masih saja belum menyempurnakan kemerdekaan bagi rakyat-rakyatnya, terutama dalam bidang pendidikan. Kata mereka negeri ini menjanjikan keadilan sosial bagi seluruh rakyatnya. Kata mereka tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan. Bahkan mereka bilang bahwa seluruh warga Negara wajib melaksanakan pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan mereka juga bilang bahwa tujuan penyelenggaraan pendidikan adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi jika kembali berkaca tentang negeri tercinta ini, apakah pendidikan sudah benar-benar terjamah dengan adil sampai ke pelosok negeri? Apakah warga negaranya sudah memiliki akhlak mulia?.
Dewasa ini pelaku pendidikan sedikitnya masih ada yang belum mampu mengimplikasikan makna dari akhlak mulia itu sendiri. Guru harusnya mampu untuk menjadi sosok yang digugu dan ditiru, justru melakukan tindakan yang tidak mencerminkan figur yang baik. Katanya negeri pancasila. Persatuan Indonesia, namun pelajarnya banyak yang menjadi petarung-peratung ulung dan merasa paling jagoan jika mampu mengalahkan seorang yang dianggap musuh. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tapi justru banyak sekali hal-hal yang mengerikan di negeri yang masyarakat luar menilai warganya ramah tamah. Negeri ini mulai mengalami yang namanya “hilang identitas”. Sampai akhrinya kita harus mulai mempertanyakan kembali dimana letak nilai-nilai pancasila di kehidupan masyarakat sekarang. Pancasila yang harusnya menjadi dasar dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara baik itu pendidikan, pembangunan, ekonomi maupun yang lainnya ternyata sudah mulai terlupakan.
Kita sepakat bahwa jika ada hal buruk pasti ada juga hal yang baik. Maka harus timbul suatu keyakinan juga jika ada sekelompok manusia yang mulai merusak pasti ada juga yang memperbaiki. Inilah yang akhirnya menggerakkan hati para mereka yang masih memiliki nurani. Yang berani menghidupkan kembali ruh negeri. Mungkin banyak dari kita sudah mendengar yang namanya komunitas Indonesia Mengajar, Kampung Sarjana, Volunteerism Teaching Indonesian Children, taman bacaan, dan pastinya sangat banyak komunitas yang berusaha menjangkau daerah yang tak terjangkau pendidikan. Gerakan semacam ini adalah salah satu bentuk kontribusi nyata untuk membangun negeri yang dilakukan oleh sebagian besar pemuda Indonesia. Bahkan sudah tidak mengherankan lagi bahwa hampir sudah ada kegiatan seperti ini dibeberapa Perguruan Tinggi Indonesia. Salah satunya adalah Universitas Negeri Jakarta sebagai  kampus pendidikan tentu juga memiliki komunitas serupa yang diberi nama Community Development. Pemerintah juga selalu terus mengupayakan program-program terbaik untuk kemajuan pendidikan di Indonesia, salah satunya dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 dalam pembelajaran di sekolah-sekolah ataupun program SM3T.
Inilah salah satu usaha anak negeri untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila sebagai panduan hidup  bangsa Indonesia, menjadikan pancasila sebagai sumber segala sumber hukum, maupun sebagai falsafah bagi kehidupan bangsanya. Yang paling penting adalah upaya bersama mewujudkan cita-cita bangsa dengan landasan iman dan taqwa dalam mencerdaskan bangsa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar