Banyak
dari kita jika ditanya “Apakah kamu cinta Indonesia?” pasti sebagian besar
menjawab iya. Indonesia negeri kaya dan tanahnya tumbuh subur memang layak
mendapat cinta. Segala apa yang dibutuhkan masyarakat dunia berasal dari negeri
ini. Namun rupanya negeri yang telah 69 tahun merdeka ini masih saja belum
menyempurnakan kemerdekaan bagi rakyat-rakyatnya, terutama dalam bidang
pendidikan. Kata mereka negeri ini menjanjikan keadilan sosial bagi seluruh
rakyatnya. Kata mereka tiap-tiap warga negara berhak mendapat pendidikan.
Bahkan mereka bilang bahwa seluruh warga Negara wajib melaksanakan pendidikan
dasar dan pemerintah wajib membiayainya. Dan mereka juga bilang bahwa tujuan
penyelenggaraan pendidikan adalah untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan
serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Tapi jika
kembali berkaca tentang negeri tercinta ini, apakah pendidikan sudah benar-benar
terjamah dengan adil sampai ke pelosok negeri? Apakah warga negaranya sudah memiliki
akhlak mulia?.
Dewasa
ini pelaku pendidikan sedikitnya masih ada yang belum mampu mengimplikasikan
makna dari akhlak mulia itu sendiri. Guru harusnya mampu untuk menjadi sosok yang
digugu dan ditiru, justru melakukan tindakan yang tidak mencerminkan figur yang
baik. Katanya negeri pancasila. Persatuan Indonesia, namun pelajarnya banyak
yang menjadi petarung-peratung ulung dan merasa paling jagoan jika mampu mengalahkan
seorang yang dianggap musuh. Kemanusiaan yang adil dan beradab, tapi justru
banyak sekali hal-hal yang mengerikan di negeri yang masyarakat luar menilai
warganya ramah tamah. Negeri ini mulai mengalami yang namanya “hilang
identitas”. Sampai akhrinya kita harus mulai mempertanyakan kembali dimana
letak nilai-nilai pancasila di kehidupan masyarakat sekarang. Pancasila yang
harusnya menjadi dasar dalam berkehidupan, berbangsa dan bernegara baik itu
pendidikan, pembangunan, ekonomi maupun yang lainnya ternyata sudah mulai
terlupakan.
Kita
sepakat bahwa jika ada hal buruk pasti ada juga hal yang baik. Maka harus
timbul suatu keyakinan juga jika ada sekelompok manusia yang mulai merusak
pasti ada juga yang memperbaiki. Inilah yang akhirnya menggerakkan hati para
mereka yang masih memiliki nurani. Yang berani menghidupkan kembali ruh negeri.
Mungkin banyak dari kita sudah mendengar yang namanya komunitas Indonesia Mengajar,
Kampung Sarjana, Volunteerism Teaching Indonesian Children, taman bacaan, dan
pastinya sangat banyak komunitas yang berusaha menjangkau daerah yang tak
terjangkau pendidikan. Gerakan semacam ini adalah salah satu bentuk kontribusi
nyata untuk membangun negeri yang dilakukan oleh sebagian besar pemuda
Indonesia. Bahkan sudah tidak mengherankan lagi bahwa hampir sudah ada kegiatan
seperti ini dibeberapa Perguruan Tinggi Indonesia. Salah satunya adalah Universitas
Negeri Jakarta sebagai kampus pendidikan
tentu juga memiliki komunitas serupa yang diberi nama Community Development. Pemerintah
juga selalu terus mengupayakan program-program terbaik untuk kemajuan pendidikan
di Indonesia, salah satunya dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 dalam
pembelajaran di sekolah-sekolah ataupun program SM3T.
Inilah
salah satu usaha anak negeri untuk menghidupkan kembali nilai-nilai pancasila
sebagai panduan hidup bangsa Indonesia, menjadikan
pancasila sebagai sumber segala sumber hukum, maupun sebagai falsafah bagi kehidupan
bangsanya. Yang paling penting adalah upaya bersama mewujudkan cita-cita bangsa
dengan landasan iman dan taqwa dalam mencerdaskan bangsa.