Terjadi di tahun ke 2 Hijriyah, Dahulu
Rasulullah saw shalat diperintahkan Allah untuk menghadap Baitul Maqdis, tapi
disaat itu beliau juga sangat mencintai Ka’bah. Sehingga saat Rasulullah saw di
Makkah pun, ketika sholat beliau memilih sholat di posisi selatan Ka’bah (Ketika
kita lihat di peta, Baitul Maqdis posisinya di utara sedangkan Ka’bah di Selatan
Makkah). Sehingga ketika Rasulullah saw shalat beliau menghadap kepada 2 tempat
sekaligus yaitu Ka’bah dan Baitul Maqdis. Hingga pada akhirnya ketika hijrah ke
Madinah, terpaksa Rasulullah saw membelakangi Ka’bah untuk sholat menghadap Baitul
Maqdis (Masjidil Aqsa). Posisi Madinah di peta diantara Makkah dan Baitul Maqdis.
Dan inilah yang membuat Rasulullah saw menjadi sedih. Sehingga sekitar beberapa
belas bulan (menurut beberapa riwayat hadits antara 16-17 bulan) berada di
Madinah, hati Rasulullah saw begitu sedih, kenapa harus membelakangi Ka’bah.
Sehingga setiap saat Rasulullah saw selalu memandang ke langit dengan wajah
penuh harapan kepada Allah swt. Rasulullah adalah seorang hamba yang begitu
malu meminta kepada Allah swt, ditambah lagi beliau dicemooh oleh orang yahudi
di Madinah. Orang yahudi berkata “lihatlah
Muhammad Shalat menghadap ke kiblat kita”.
Sampai suatu ketika Jibril datang dan Rasulullah
saw mengadu kepadanya. Berkata kepada Malaikat Jibril a.s “Ya Jibril alangkah indahnya jika kiblat kita dipindah dari kiblatnya
orang yahudi, sebab mereka mencemooh aku. alangkah indahnya jika kiblat
menghadap kiblatnya Nabi Ibrahim”. Lalu jibril berkata, “Ya Muhammad saya ini bukan siapa-siapa, saya hanya hamba. Apa yang
diperintahkan Allah itulah yang saya lakukan”.
Hingga pada akhirnya Malaikat Jibril
kembali datang dan berkata kepada Rasulullah saw “engkau ini tidak ada henti-hentinya memandang ke langit dengan penuh
harapan. Ya Muhammad saw saat ini harapanmu telah diwujudkan oleh Allah swt,
apa yang engkau harapkan telah diberikan oleh Allah swt”. Apa yang sebenarnya
Rasulullah saw harapkan? Ya, Rasulullah saw meminta agar kiblat dipindahkan
kearah Ka’bah.
Maka saat itu Allah menurunkan
firman-Nya didalam Al-Qur’an.
“Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit,
maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah
mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu
ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al
Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram
itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa
yang mereka kerjakan” QS. Al-Baqarah :144
Lihat betapa Allah begitu memanjakan Rasulullah
saw. Padahal bisa saja Allah swt langsung memerintahkah kepada Rasulullah saw,
“Ya Muhammad pindah Ke’bah” lalu selesailah urusan. Tapi betapa cintanya Allah swt
kepada Rasulullah saw, ayat itu dimulai dengan
ucapan manja untuk Rasulullah saw, “Kami
telah melihat wajahmu yang penuh harapan yang senantiasa memandang kearah Ka’bah”.
Manusia yang paling dicintai Allah swt.
Apa yang ada dibenaknya (Rasulullah saw), Allah menurutinya. “maka Kami arahkan engkau kepada kiblat yang
engkau ridhoi (sukai)” bukan yang Kami (Allah harapkan) tetapi adalah apa
yang engkau (Muhammad saw) mau. Begitu besar cinta Allah swt kepada Rasulullah
saw, hamba yang paling Allah cintai.
Sudah sepantasnya kita sama-sama
belajar dan berusaha untuk mencintai beliau. Berusaha untuk mendapatkan cintanya
(Rasulullah saw). Mencintai makhluk yang Allah swt begitu sangat mencintainya.
Allahumma sholi ‘alaa sayyidina
Muhammad wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa salam
Wallahua’alam bi shawab
Sekilas info : Sampai pada saat ini masih terdapat masjid
yang bernama masjid kiblatain (masjid 2 kiblat). Bagaimana saat para sahabat
sedang shalat disana, salam riwayat mereka shalat ashar 2 rakaat baru selesai
menghadap baitul maqdis, tiba-tiba Rasulullah saw menyerukan, “telah turun
perintah Allah kepada kalian untuk menghadap kepada ka’bah.” Maka saat itu
mereka memutar arah shalat mereka langsung menghadap kepada kabah.